Rabu, 14 Maret 2018

PEMBELAJARAN



A.    Hakikat Pembelajaran
Seseorang dikatakan belajar apabila ia dapat melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukan sebelum ia belajar, atau bila kelakuannya berubah, sehingga lain  caranya menghadapi suatu  situasi dari pada sebelum itu. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 20 dinyatakan bahwa Pembelajaran  adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Sejalan Undang-undang tersebut, menurut Dimyati dan Mudjiono (Ahmar 2012) pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Disisi lain menurut Hamalik (1994) pembelajaran adalah susatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur, yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dari pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran adalah suatu proses interaksi antara guru dan siswa dalam suatu proses pembelajaran yang terprogram dan didesain dalam suatu lingkungan belajar.
Pengelompokan komponen pembelajaran terdiri dari tiga kategori utama, yaitu: guru, isi atau materi pembelajaran, dan siswa (Sumiati dan Asra dalam Ahmad 2012). Interaksi antara tiga komponen utama ini dapat melibatkan metode, media, dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga terciptanya situasi pembelajaran yang memungkinkan terciptanya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
a.       Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur (H. Daryanto dalam Ahmad 2012).
b.      Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa materi pembelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan (Syaiful Bahri Djamarah, dkk, dalam Ahmad 2012).
c.       Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang ditetapkan guru memungkinkan siswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar produk. Penggunaan metode pembelajaran oleh guru memunkinkan siswa untuk mencapai tujuan belajar baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Agar metode pembelajaran yang digunakan oleh guru cepat, guru harus memperhatikan beberapa faktor, yaitu tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber dan fasilitas, situasi kondisi dan waktu.
d.      Media Pembelajaran
Menurut Rudi Susilana dan Cepi Riyana (2009) mengklasifikasikan penggunaan media berdasarkan tempat penggunaannya, yaitu:
-          Penggunaan media kelas
-          Penggunaan media diluar kelas
e.       Evaluasi Pembelajaran
     Evaluasi pembelajaran merupakan penilaian terhadap kemajuan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran. Dengan adanya evaluasi pembelajaran keberhasilan pembelajaran diketahui hasilnya. Evaluasi pembelajaran harus disusun dengan tepat. 
f.       Peserta didik/ Siswa
     Siswa merupakan komponen inti dari pembelajaran, maka dari itu siswa harus disiplin belajar yang tinggi.
g.      Pendidik/Guru
     Guru merupakan komponen utama yang sangat penting dalam proses pembelajaran karena tugas guru bukan hanya sebagai fasilitator namun ada dua tugas. Kedua tugas itu adalah sebagai pengelola pembelajaran dan sebagai pengelola kelas.
h.      Lingkungan tempat belajar
Lingkungan yang ditata dengan baik akan menciptakan kesan positif dalam diri siswa, sehingga siswa menjadi lebih senang untuk belajar dan lebih nyaman dalam belajar.

B.     Model Desain Pembelajaran
Gagne (1992) menjelaskan bahwa desain pembelajaran untuk membantu proses belajara siswa, dimana proses belajara itu memiliki tahapan jangka panjang. Menurut gagne belajar seseorang dpat dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor internal dan faktor eksternal.
1.      Faktor internal adalah faktor yg berkaitan dengan kondisi yang dibawa atau datang dari dalam individu siswa, seperti kemampuan dasar, gaya belajar seseorang, minat dan bakat serta kesiapan setiap individu yang belajar.
2.      Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yakni berkaitan dengan penyediaan kondisi atau lingkungan yang didesain agar siswa belajar. Desain pembelajaran berkaitan dengan faktor eksternal ini, yakni pengaturan lingkungan dan kondisi yg memungkinkan siswa dapat belajar. 
Dalam desain pembelajaran dikenal beberapa model yang dikemukakan oleh para ahli. Secara umum, model desain pembelajaran dapat diklasifikasikan ke dalam model berorientasi kelas, model berorientasi sistem, model berorientasi produk, model prosedural dan model melingkar. Desain pembelajaran sebagai proses rangkaian kegiatan yang bersifat linear tersebut digambarkan oleh Sambaugh (2006).
1.      Menentukan kebutuhan
2.      Pengembangan desain untuk menjawab kebutuhan
3.      Uji coba
4.      Evaluasi hasil (kembali lagi menentukan kebutuhan)

Desain instruksional yg baik harus memiliki beberapa kriteria diantaranya:
a.       Berorientasi pada siswa
Ketika kita mendesain pembelajaran, maka pertanyaan pertama yg harus kita ajukan adalah bagaimana desain yg kita kembangkan itu mampu membantu siswa dalam mempelajari bahan pembelajara dan memudahkan siswa belajar. Beberapa hal yg perlu dipahami tentang siswa diantaranya:
1)      Kemampuan dasar
Pemahaman kemampuan dasar yg dimiliki siswa perlu dipahami untuk menentukan dari mana sebaiknya kita mulai mendesain pembelajaran. Dalam menentukan tujuan pembelajaran yg harus dicapai selamanya disesuaikan dengan kemampuan yg telah atau harus dimiliki terlebih dahulu oleh setiap siswa. Sehingga desain pembelajaran dirancang sesuai dengan potensi dan kompetensi yang telah dimiliki oleh siswa. Dengan kata lain desain tidak dirancang semata-mata oleh kemauan guru saja.
2)      Gaya belajar
Gaya belajar ada 3 tipe, yakni tipe auditif, tipe visual, dan tipe kinestetis. Siswa yg bertipe auditif akan dapat menangkap informasi lebih banyak melalui pendengaran. Dengan demikian maka desain pembelajaran dirancang agar siswa banyak mendengar melalui berbagai media yang dapat di dengar seperti radio, recorder, video dll.
b.      Berpijak pada pendekatan sistem
Melalui pendekatan sistem bukan saja dapat diprediksi keberhasilannya, akan tetapi juga akan terhindar dari ketidakpastian. Hal ini disebabkan karena melalui pendekatan sistem dari awal sudah diantisipasi berbagai kendala yg mungkin dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan. Atas dasar itulah maka pendekatan sistem dalam desain instruksional merupakan pendekatan ideal yg dapat dilakukan oleh para desainer pembelajaran.
c.       Teruji secara empiris
Sebelum digunakan, sebuah desain instruksional harus teruji dahulu efektivitas dan efisiensinya secara empiris. Melalui pengujian secara empiris dapat dilihat berbagai kelemahan dan berbagai kendala yg mungkin muncul sehingga jauh sebelumnya dapat diantisipasi. Selain itu melalui pengkajian secara ilmiah dapat meyakinkan para pengembang pembelajaran untuk menggunakannya.
Berikut ini beberapa model-model desain pembelajaran:



1. Model Dick and Carrey  
Salah satu model desain pembelajaran adalah model Dick and Carey (1985). Model ini termasuk ke dalam model prosedural. Langkah–langkah Desain Pembelajaran menurut Dick and Carey:
a.       Mengidentifikasikan tujuan umum pembelajaran. 
b.      Melaksanakan analisis pembelajaran 
c.       Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa 
d.      Merumuskan tujuan performansi
e.       Mengembangkan butir–butir tes acuan patokan 
f.       Mengembangkan strategi pembelajaran 
g.      Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran 
h.      Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif 
i.        Merevisi bahan pembelajaran
j.        Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.

2.      Model Kemp






  Model Kemp termasuk ke dalam contoh model melingkar jika ditunjukkan dalam sebuah diagram.

Secara singkat, langkah-langkah dalam penyusunan sebuah bahan ajar, yaitu: 
a.       Menentukan tujuan dan daftar topik,menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya.
b.      Menganalisis karakteristik pelajar, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;
c.       Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolak ukur perilaku pelajar
d.      Menentukan isi materi pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan
e.       Pengembangan prapenilaian/ penilaian awal untuk menentukan latar belakang pelajar dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik
f.       Memilih aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang menyenangkan atau menentukan strategi belajar-mengajar, jadi siswa siswa akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan;
g.      Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran
h.      Mengevaluasi pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi yang dilakukan berupa evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.

3.      Model ASSURE
Model ASSURE merupakan suatu model yang merupakan sebuah formulasi untuk kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau disebut juga model berorientasi kelas. Menurut Heinich (Supriatna dan Mulyadi, 2009) model ini terdiri atas enam langkah kegiatan yaitu
a)      Analyze Learners
Menurut Heinich (Supriatna dan Mulyadi, 2009) jika sebuah media pembelajaran akan digunakan secara baik dan disesuaikan dengan cirri-ciri belajar, isi dari pelajaran yang akan dibuatkan medianya, media dan bahan pelajaran itu sendiri. Lebih lanjut Heinich menyatakan sukar untuk menganalisis semua cirri pelajar yang ada, namun ada tiga hal penting dapat dilakuan untuk mengenal pelajar sesuai .berdasarkan cirri-ciri umum, keterampilan awal khusus dan gaya belajar
b)      States Objectives
Menyatakan tujuan adalah tahapan ketika menentukan tujuan pembeljaran baik berdasarkan buku atau kurikulum. Tujuan pembelajaran akan menginformasikan apakah yang sudah dipelajari anak dari pengajaran yang dijalankan. Menyatakan tujuan harus difokuskan kepada pengetahuan, kemahiran, dan sikap yang baru untuk dipelajari.
c)      Select Methods, Media, and Material
Heinich (Supriatna dan Mulyadi: 2009) menyatakan ada tiga hal penting dalam pemilihan metode, bahan dan media yaitu menentukan metode yang sesuai dengan tugas pembelajaran, dilanjutkan dengan memilih media yang sesuai untuk melaksanakan media yang dipilih, dan langkah terakhir adalah memilih dan atau mendesain media yang telah ditentukan.
d)     Utilize Media and materials
Menurut Heinich (Supriatna dan Mulyadi: 2009) terdapat lima langkah bagi penggunaan media yang baik yaitu, preview bahan, sediakan bahan, sedikat persekitaran, pelajar dan pengalaman pembelajaran.
e)      Require Learner Participation
Sebelum pelajar dinilai secara formal, pelajar perlu dilibatkan dalam aktivitas pembelajaran seperti memecahkan masalah, simulasi, kuis atau presentasi.
f)       Evaluate and Revisi
Sebuah media pembelajaran yang telah siap perlu dinilai  untuk menguji keberkesanan dan impak pembelajaran. Penilaian yang dimaksud melibatkan beberaoa aspek diantaranya menilai pencapaian pelajar, pembelajaran yang dihasilkan, memilih metode dan media, kualitas media, penggunaan guru dan  penggunaan pelajar.
4.      Model Addie
Ada satu model desain pembelajaran yang lebih sifatnya lebih generik yaitu model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.Salah satu fungsinya ADIDE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri.   Model ini menggunakan 5 tahap pengembangan yakni :
a.       Analysis (analisa)
Tahap analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari oleh peserta belajar, yaitu melakukan needs assessment (analisis kebutuhan), mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task analysis). Oleh karena itu, output yang akan kita hasilkan adalah berupa karakteristik atau profile calon peserta belajar, identifikasi kesenjangan, identifikasi kebutuhan dan analisis tugas yang rinci didasarkan atas kebutuhan.  
b.      Design (disain / perancangan)
Tahap ini dikenal juga dengan istilah membuat rancangan (blue-print). Ibarat bangunan, maka sebelum dibangun gambar rancang bangun (blue-print) diatas kertas harus ada terlebih dahulu. Apa yang kita lakukan dalam tahap desain ini? Pertama merumuskan tujuan pembelajaran yang SMAR (spesifik, measurable, applicable, dan realistic). Selanjutnya menyusun tes, dimana tes tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan tadi. Kemudian tentukanlah strategi pembelajaran yang tepat harusnya seperti apa untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini ada banyak pilihan kombinasi metode dan media yang dapat kita pilih dan tentukan yang paling relevan. Disamping itu, pertimbangkan pula sumber-sumber pendukung lain, semisal sumber belajar yang relevan, lingkungan belajar yang seperti apa seharusnya, dan lain-lain. Semua itu tertuang dalam sautu dokumen bernama blue-print yang jelas dan rinci.
c.       Development (pengembangan)
Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print alias desain tadi menjadi kenyataan. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa multimedia pembelajaran, maka multimedia tersebut harus dikembangkan. Atau diperlukan modul cetak, maka modul tersebut perlu dikembangkan. Begitu pula halnya dengan lingkungan belajar lain yang akan mendukung proses pembelajaran semuanya
d.      Implementation (implementasi/eksekusi)
Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan sistem pembelajaran yang sedang kita buat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah dikembangkan diinstal atau diset sedemikian rupa sesuai dengan peran atau fungsinya agar bisa diimplementasikan. Misal, jika memerlukan software tertentu maka software tersebut harus sudah diinstal. Jika penataan lingkungan harus tertentu, maka lingkungan atau seting tertentu tersebut juga harus ditata. Barulah diimplementasikan sesuai skenario atau desain awal. 
e.       Evaluation (evaluasi/ umpan balik)
Evaluasi adalah proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang sedang dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak. Sebenarnya tahap evaluasi bisa terjadi pada setiap empat tahap di atas. Evaluasi yang terjadi pada setiap empat tahap diatas itu dinamakan evaluasi formatif, karena tujuannya untuk kebutuhan revisi. Misal, pada tahap rancangan, mungkin kita memerlukan salah satu bentuk evaluasi formatif misalnya review ahli untuk memberikan input terhadap rancangan yang sedang kita buat. Pada tahap pengembangan, mungkin perlu uji coba dari produk yang kita kembangkan atau mungkin perlu evaluasi kelompok kecil dan lain-lain.
5.      Model Hanafin and Peck



Model Hannafin dan Peck ialah model desain pengajaran yang terdiri daripada tiga fase yaitu fase Analisis keperluan, fase desain, dan fase pengembangan dan implementasi. Dalam model ini, penilaian dan pengulangan perlu dijalankan dalam setiap fase. Model ini adalah model desain pembelajaran berorientasi produk. Gambar di bawah ini menunjukkan tiga fase utama dalam model Hannafin dan Peck.
Fase pertama dari model Hannafin dan Peck adalah analisis kebutuhan. Fase ini diperlukan untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dalam mengembangkan suatu media pembelajaran termasuklah di dalamnya tujuan dan objektif media pembelajaran yang dibuat, pengetahuan dan kemahiran yang diperlukan oleh kelompok sasaran, peralatan dan keperluan media pembelajaran. Setelah semua keperluan diidentifikasi Hannafin dan Peck menekankan untuk menjalankan penilaian terhadap hasil itu sebelum meneruskan pembangunan ke fase desain. 
Fasa yang kedua dari model Hannafin dan Peck adalah fase desain. Di dalam fase ini informasi dari fase analisis dipindahkan ke dalam bentuk dokumen yang akan menjadi tujuan pembuatan media pembelajaran. Hannafin dan Peck menyatakan fase desain bertujuan untuk mengidentifikasikan dan mendokumenkan kaedah yang paling baik untuk mencapai tujuan pembuatan media tersebut. Salah satu dokumen yang dihasilkandalam fase ini ialah dokumen story board yang mengikut urutan aktivitas pengajaran berdasarkan keperluan pelajaran dan objektif media pembelajaran seperti yang diperoleh dalam fase analisis keperluan. Seperti halnya pada fase pertama, penilaian perlu dijalankan dalam fase ini sebelum dilanjutkan ke fase pengembangan dan implementasi. 
Fase ketiga dari model Hannafin dan Peck adalah fase pengembangan dan implementasi. Hannafin dan Peck mengatakan aktivitas yang dilakukan pada fase ini ialah penghasilan diagram alur, pengujian, serta penilaian formatif dan penilaian sumatif.  Dokumen story board akan dijadikan landasan bagi pembuatan diagram alir yang dapat membantu proses pembuatan media pembelajaran. Untuk menilai kelancaran media yang dihasilkan seperti kesinambungan link, penilaian dan pengujian dilaksanakan pada fase ini. Hasil dari proses penilaian dan pengujian ini akan digunakan dalam proses pengubahsuaian untuk mencapai kualitas media yang dikehendaki. Model Hannafin dan Peck menekankan proses penilaian dan pengulangan harus mengikutsertakan proses-proses pengujian dan penilaian media pembelajaran yang melibatkan ketiga fase secara berkesinambungan. Lebih lanjut Hannafin dan Peck menyebutkan dua jenis penilaian yaitu penilaian formatif dan penilaian sumatif. Penilaian formatif ialah penilaian yang dilakukan sepanjang proses pengembangan media sedangkan penilaian sumatif dilakukan setelah media telah selesai dikembangkan.
6.      Model Banathy
Model ini memandang bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahapan dalam mendesain suatu program pembelajaran yakni:
a.       Menganalisis dan merumuskan tujuan, baik tujuan pengembangan sistem maupun pengembangan spesifik. Tujuan merupakan sasaran dan arah yang harus dicapai oleh siswa atau peserta didik.
b.      Merumuskan kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Item tes dalam tahap ini dirumuskan untuk menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan tes dapat menyakinkan kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilannya.
c.       Menganalisis dan merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan menginventarisasi seluruh kegiatan belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai dengan kondisi yang ada serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan.
d.      Merancang sistem, yaitu kegiatan menganalisis sistem menganalisis setiap komponen sistem, mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.
e.       Mengimplementasikan dan melakukan kontrol kualitas sistem, yakni melatih sekaligus menilai efektivitas sistem, melakukan penempatan dan melaksanakan evaluasi
f.       Mengadakan perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.
C.    Analisis kebutuhan
Analisis kebutuhan merupakan aktivitas ilmiah untuk mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat proses pembelajaran guna memilih dan menentukan media yang tepat dan relevan untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mengarah pada peningkatan mutu pendidikan. Menurut Aderson analisis kebutuhan diartikan sebagai suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas. Ada dua jenis penelitian yaitu: (1) Kebutuhan Fungsional merupakan pendefinisian layanan yang harus disediakan, bagaimana reaksi sistem terhadap input dan apa yang harus dilakukan sistem pada situasi khusus (Kebutuhan sistem dilihat dari kacamata pengguna), (2) kebutuhan Non-Fungsional yaitu kendala pada pelayanan atau fungsi sistem seperti kendala waktu, kendala proses pengembangan, standard, dll. Contoh: kehandalan, waktu respon dan kebutuhan storage. Contoh kendala seperti: Keterbatasan kemampuan peralatan I/O, representasi sistem dan lain-lain.
1.      Fungsi analaisis kebutuhan
Marrison menejelaskan beberapa analisis kebutuhan
a.       Mengidentifikasi kebutuhanyang relevan dengan pekrjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
b.      Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang mengganggu pekerjaan atau lingkungan pendidikan.
c.       Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.
d.      Memberikan data basis untuk menganalisa efektivitas pembelajaran.
Ada enam macam kebutuhan yang digunakan untuk merencanakan dan mengadakan analisa kebutuhan:
a.       Kebutuhan normatif membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misal EBTANAS dll.
b.      Kebutuhan komperatif, membandingkan peserta didik dengan satu kelompok dengan kelompok yang lainyang selevel. Misalkan SLTP A dan SLTP B.
c.       Kebutuhan yang dirasakan yaitu hasrat atau keinginan untuk dimiliki msing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan . hal ini menunjuk pada kesenjangan antara keterampilan kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan.
d.      Kebutuhan yang diekspresikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang yang diekspresikan dalam tindakan, misalkan siswa yang mendaftar sebuah kursus.
e.       Kebutuhan masa depan, yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Misalkan penerapan teknik pembelajaran yang barudan sebagainya.
f.       Kebutuhan insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul diluar dugaan yang sangat berpengaruh. Mialkan bencana nuklir dan sebagainya.

2.      Langkah-langkah Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan terdiri atas rangkaian kegiatan yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan berakhir pada perumusan masalah. Adapun tahapan dalam langkah-langkah analisis kebutuhan meliputi:
a.       Pengumpulan informasi
Dalam merancang pembelajaran pertama kali seorang desainer perlu memahami terlebih dahulu informasi tentang siswa dapat mengerjakan apa, siapa memahami apa, siapa yang akan belajar, kendala-kendala apa yang akan dihadapi, dan bagaimana pengaruh keadaan tertentu terhadap karakteristik siswa. Berbagai informasi yang dikumpulkan akan bermanfaat dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai beserta skala prioritas dalam pemecahan suatu masalah.
b.      Identifikasi kesenjangan
Dalam identifikasi kesenjangan Kaufman dan English (1979), menjelaskan identifikasi kesenjangan melalui Organizational Elements Model (OEM). Dalam model OEM, Kaufman menjelaskan adanya lima elemen yang saling berkaitan. Duaa elemen pertama, yaituj input dan proses adalah bagaimana menggunakan setiap potensi dan sumber yang ada; sedangkan elemen terakhir meliputi produk, output dan outcome merupakan hasil akhir dari suatu proses. Kategori kebutuhan seperti yang dikemukakan dalam OEM digambarkan oleh Kaufman seperti gambar di bawah ini:
1)      Input
2)      Proses
3)      Produk
4)      Output
5)      Outcome
Komponen input, meliputi kondisi yang tersedia pada saat ini misalnya tentang  keuangan, waktu, bangunan, guru, pelajar, kebutuhan, problem, tujuan, materi kurikulum yang ada. Komponen proses, meliputi pelaksanaan pendidikan yang berjalan yang terdiri atas pola pembentukan staf, pendidikan yang berlangsung sesuai dengan kompetensi, perencanaan, metode, pembelajaran individu, dan kurikulum yang berlaku. Komponen produk, meliputi penyelesaian pendidikan, keterampilan, pengetahuan dan sikap yang dimiliki, serta kelulusan tes kompetensi. Komponen Output, meliputi ijazah kelulusan, keterampilan prasyarat, lisensi. Komponen Outcome meliputi kecukupan dan kontribusi individu atau kelompok saat ini dan masa depan. Outcome merupakan hasil akhir yang diperoleh. Melalui analisis hasil, desainer dapat menentukan sejauh mana hasil yang diperoleh dapat berkontribusi pada pencapaian tujuan. Inilah proses yang pada hakikatnya menentukan kesenjangan antara harapan dan apa yang terjadi. Berdasarkan analisis itulah, desainer dapat mendeskripsikan masalah dan kebutuhan pada setiap komponen yakni input, proses, produk, dan output.
c.       Analisis performance
Tahap ketiga dalam proses need assessment, adalah tahap menganalisis performance. Menganalisis performance  dilakukan setelah desainer memahami berbagai informasidan mengidentifikasi  kesenjangan yang ada. Ketika kita menemukan adanya kesenjangan, selanjutnya kita identifikasi kesenjangan mana yang dapat dipecahkanmelalui perencanaan pembelajaran dan mana yang memerlukan pemecahan dengan cara lain, seperti melalui kebijakan pengelolaan baru, penentuan struktur organisasi yang lebih baik, atau mungkin melalui pengembangan bahan dan alat-alat. Untuk mennetukan semua itu kita perlu memahami faktor-faktor penyebab terjadinya kesenjangan dan pemahaman tersebut dapat dilakukan pada saat need assessment berlangsung. Analisis performance meliputi:
1)      Mengidentifikasi guru
2)      Mengidentifikasi saran dan kelengkapan penunjang
3)      Mengidentifikasi berbagai kebijakan sekolah
4)      Mengidentifikasi iklim sosial dan iklim sosiologi
Disamping semua unsur tersebut, masih ada unsur lainnya yang perlu dianalisis, misalnya penerapan hukuman dan ganjaran, sistem intensif yang diberikan baik pada guru maupun siswa.
d.      Identifikasi hambatan
Tahap keempat dalam need assessment adalah mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul beserta sumber-sumbernya. Dalam pelaksanaan suatu program berbagai kendala  bias muncul sehingga dapat berpengaruh terhadap kelancaran suatu program. Berbagai kendala dapat meliputi, waktu fasilitas, bahan, pengelompokan dan komposisinya, pilosofi, personal, dan organisasi. Sumber-sumber kendala bisa berasal dari pertama, orang yang terlibat dalam suatu program pembelajaran, misalnya guru-kepala sekolah, dan siswa itu sendiri. Termasuk juga dalam unsure orang ini adalah unsure filsafat atau pandangan yang terhadap pekerjaannya, motivasi kerja, dan kemampuan yang dimilikinya. Kedua, fasilitas yang ada, di dalamnya  meliputi ketersediaan dan kelengkapan fasilitas serta kondisi fasilitas. Ketiga, berkaitan dengan jumlah pendanaan beserta pengaturannya
e.       Identifikasi karakteristik siswa
Tahap kelima dalam need assessment adalah mengidentifikasi siswa. Tujuan utama dalam desain pembelajaran adalah memecahkan berbagai problema yang dihadapi siswa, oleh karena itu hal-hal yang berkaitan dengan siswa adalah bagian dari need assessment. Identifikasi yang berkaitan dengan siswa di antaranya  adalah tentang usia, jenis kelamin, level pendidikan, tingkat social ekonomi, latar belakang, gaya belajar, pengalaman dan sikap. Karakteristik siswa seperti di atas, akan bermanfaat ketika kita menentukan tujuan yang harus dicapai, pemilihan dan penggunaan strategi pembelajaran yang di anggap cocok, serta untuk menentukan teknik evaluasi yang relevan.
f.       Identifikasi prioritas
Definisi need assessment sebagai suatu proses mengidentifikasi, mendokumentasi dan menjustifikasi kesenjangan antara apa yang terjadi dan apa yang akan dihasilkan melalui penentuan skala prioritas dari setiap kebutuhan Kaufman (1983). Definisi yang dikemukakan oleh Kaufman berhubungan erat dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh sebab itu, mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai merupakan salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan dalam proses need assessment. Tidak semua kebutuhan menjadi tujuan dalam desain intruksional. Seorang desainer perlu menetapkan kebutuhan-kebutuhan apa yang dianggap mendesak untuk dipecahkan sesuai dengan kondisi. Ini hakikatnya menentukan skala prioritas dalam need assessment. Terdapat beberapa teknik dalam menentukan skala prioritas dari data yang telah terkumpul. Misalnya teknik perangkingan meliputi Teknik Delphi, Fokus Group Discussion, Q-Sort, dan Storyboarding. Teknik-teknik ini digunakan untuk menjaring berbagai tujuan yang dianggap perlu melalui penilaian para ahli yang terlibat pada diskusi. Dengan demikian, rumusan tujuan benar-benar hasil suatu studi yang dibutuhkan dan diperlukan untuk dipecahkan
g.      Merumuskan masalah
Tahap akhir dalam proses analisis masalah adalah menuliskan pernyataan masalah sebagai pedoman dalam penyusunan proses desain intruksional. Penulisan masalah pada dasarnya merupakan rangkuman atau sari pati dari permasalahan yang ditentukan. Pernyataan masalah harus ditulis secara singkat dan padat yang biasanya tidak lebih dari satu-dua paragraf. Salah satu format yang sederhana dikembangkan oleh Jung, Pino dan Emory (1979), yang dinamakan dengan RUPS (Research Utilizing Problem Solving). Tujuan RUP adalah merumuskan latar belakang dan konteks permasalahan, bagaimana tipe permasalahan dan memberikan tujuan berdasarkan permasalahan untuk dikembangkan. Teknik RUPS merupakan teknik yang dianggap paling baik ketika kita ingin menjawab permasalahan yang harus dipecahkan.

D.    Analisis karakteristik siswa
Sebelum menyusun dan mengembangkan RPP, sebaiknya seorang guru yelah memahami subjek atau peserta didiknya. Karena siswa memiliki beragam tingkat pengetahuan. Menurut Syaiful segala interaksi antara peserta didik dan pendidikan akan ,menghasilkan kematangan yang tampak dari peruahan tingkah laku yang dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari proses belajar. Sementara itu syamsudin Makmun menjelaskan secara rinci tentang perubahan dalam konteks belajar yang dilakukan siswa dapat bersifat fungsional atau struktural, material, behavioral serta keseluruhan pribadi..
Karakteristik siswa didefinisikan sebagai ciri kualitas perorangan siswa yang pada umumnya meliputi antara lain kemampuan akademik, usia dan tingkat kedewasaan, motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, keterampilan, psikomotorik, kemampuan bekerja sama, dan keterampilan sosial. Disamping karakteristik tersebut, terdapat karakteristik yang disebut dengan non-konvensional yang meliputi kelompok minoritas (suku), cacat dan tingkat kedewasaan. Hal ini berpengaruh terhadap penggunaan bahas, penghargaan, perlakuan khusu, dan metode/strategi dalam proses pembelajaran.
Didalam menganalisis karakter siswa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Menurut Anwar dan Harmi (2011) dua karakteristik siswa yang perlu dipahami oleh seorang guru, yaitu:
1.      Latar belakang akademik mencakup
a.       Jumlah siswa
Guru perlu mengetahui jumlah ssiswa yang akan diajarkan untuk mengetahui apakah mengajar pada kelas kecil atau kelas besar. Pemahaman guru terhadap jumlah siswa akan mempengaruhi persiapan, guru dalam menemukan materi, metode, media, waktu yang dibutuhkan dalam evaluasi pembelajaran yang akan dilakukan. Untuk mengetahui jumlah siswa maka guru perlu berkoordinasi dengan bagian akademik.
b.      Latar belakang siswa
Pemahaman guru terhadap latar belakang siswa seperti latar belakang ekonomi, hobi dan lain sebagainya, juga berpengaruh terhadap proses perumusan perencanaan sistem pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang latar belakang zizwa dapat diperoleh melalui pengisian biodata oleh siswa.
c.       Indeks prestasi
Indeks prestasi juga penting untuk diketahui oleh seorang guru, agar materi yang akan disajikan:
1)      Dapat disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki
2)      Bahkan siswa yang memiliki tingkat prestasi yang homogen dapat ditempatkan  pada kelas yang sama
3)      Guru yang dapat mempertimbangkan tingkat keluasan dan kedalaman materi yang disampaikan dengan prestasi yang dimiliki oleh siswa
Untuk mengetahui indeks prestasi siswa dapat diperoleh melalui nilai rapor sebelumnya atau seleksi kemampuan awal siswa yang diselenggarakan lembaga.
d.      Tingkat intelegensi
Memahami tingkat intelegensi siswa juga dapat mengukur dan memprediksi:
1)      Tingkat kemampuan mereka dalam menerima materi pembelajaran
2)      Mengukur tingkat kedalaman
3)      Bahkan dengan memahami tingkat intelegensi siswa perlu dapat menyusun materi, metode, media, serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap siswa.
Tingkat intelegensi siswa dapat diperoleh melalui tes intelegensi atau tes potensi akademik (TPA).
e.       Keterampilan membaca
Salah satu kecakapan yang harus dimiliki siswa dalam belajar adalah keterampilan membaca, keterampilan membaca adalah yang menyangkut tentang kemampuan siswa dalam menyimpulkan secara cepat dan akurat tentang bahan bacaan yang mereka baca. Untuk mengetahui tingkat keterampilan membaca siswa dapat dilakukan melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam rentang waktu yang telah ditentukan.
f.       Nilai ujian
Nilai ujian juga dapat diajdikan sebagai pedoman untuk memhami karakteristik awal siswa. Untuk memperoleh nilai ujian siswa perlu dilakukan tes kemampuan awal siswa terhadapa mata pelajaran yang diampu oleh guru yang bersangkutan.
g.      Kebiasaan hasil belajar gaya belajar
Aspek lain yang perlu diperhatikan dalam mengajar adalah memahami gaya belajar siswa atau yang disebut dengan learning style. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai siswa. Dalam proses pembelajaran, banyak siswa yang mengikuti belajar pada masa pelajaran terstentu, diajar dengan menggunakan strategi yang sama, akan tetapi mempunya tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh tingkat kecerdasan siswa yang berbeda-beda.
h.      Minat belajar
Minat belajar juga dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam emmahami karakteristik siswa. Hal ini dilakukan agar guru dapat memprediksi melihat antusias terhadap pembelajaran yang disampaikan. Oleh sebab itu, guru perlu melakukan wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum seluruh penilaian yang mencerminkan tentang minat siswa terhadap mata pelajaran yang akan disampaikan.
i.        Harapan/keinginan siswa
Harapan dan keinginan siswa  terhadap mata pelajaran yang akan diberikan juga bisa dijadikan sebagai patokan guru dalam memahami karakteristik siswa. Hal ini dpaat dilakukan  dengan meminta siswa untuk mengemukakan pendepatnya tentang harapan mereka terhadap mata pelajaran yang akan diberikan, suasana yang inginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata pelajaran yang disajikan.
j.        Lapangan kerja/ cita-cita
Hal ini dapat dilakukan dnegan pengisisan angket. Sehingga berdasarkan informasi ini guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi terhadap siswa dalam upaya pencapaian cita-cita mereka inginkan.
2.      Faktor sosial yang meliputi antara lain:
a.       Usia
Faktor usia dapat dijadikan patokan dalam memahami karakteristik siswa. Memahami usia siswa akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap usia anak-anak tentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakan  terhadap anak remaja atau dewasa.
Dalam praktik pendidikan dikenal istilah pedagogi dan andragogi. Pedagogi berasal dari bahasa Yunani paid  artinya anak dan agogos  artinya membimbing. Itulah sebabnya pedagogi diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar anak. Sedangkan andragogi berasal dari kata Yunani yakni  andra berarti orang dewasa dan agogos  berarti memimpin. Definisi andragogi kemudian dirumuskan sebagai suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar.
b.      Kematangan
Kematangan juga dapat dijadikan sebagai patokan dalam memahami karakteristik siswa, dimana kematangan secara psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam mennentukan berbagai macam pendekatan belajara yang sesuai dengan tingakt usia/kesiapan siswa. Didalam Ilmu Psikologi Pendidikan kematanagan ini disebut juga dengan perkembangan. Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat kualitatif dari fungsi-fungsi tubuh manusia, baik jasmani maupun rohani. Dari perkembangan jasmani dan rohani manusia yang terjadi pada fase kehidupan manusia, mengaruh pada terjadinya proses kematangan. Kematangan itu mencakup:
1)      Kematangan prenatal yakni anak berusia 2,5-9 tahun akan mengalami kematangan fungsi syaraf serta refleksi untuk menggerakkan tubuh bayi
2)      Perkembangan vital yakni lahir, menangis, dan tak berdaya, tetapi setelah mengalami fase tersebut ketigfa aspek siatas dapat berfungsi dab=n menjadi matang.
3)      Kematangan ingatan yakni 2-3 tahun fungsi ingatan anak mulai berkembang, sehingga telah mampu menerima kesan dan ingatan serta menuju kesempurnaan pada usia berikutnya.
4)      Kematangan imajinasi yakni pada anak usia 3-4 tahun anak sudah merasa bahwa dirinya merupakan kepentingan dari orang lain. Bahkan dia telah mulai menyadari bahwa ia dibatasi oleh orang lain. Pada usia berikutnya imajinasi tersebut akan berkembang menuju kematangannya.
5)      Kematangan pengamatan yakni pada usia 4-6 tahun sudah berkembang fungsi pengamatan untuk mengenal lingkungan sekitarnya, sehingga pada tahun berikutnya fungsi kematangan menjadi dominan.
6)      Kematangan intelektual yakni pada anak 67 tahun anak sudah mulai berfikir secara logis baik dan buruk. Dan pada tahun berikutnya perkembangan dan gungsi intelektual anak akan menuju kematangannya seiring dnegan proses pembelajaran yang ia peroleh.
7)      Kematanagn pra remaja yakni anak sudah memasuki usia pubertas yang salahsatu cirinya adalah anak muali memperhatikan diri, emmbandingkan dengan orang lain, serta mulai mengenal lawan jenis.
8)      Kematangan remaja yaitu anak sudah mulai merasakan kebutuhan untuk berteman, sahabat yang dapat membantu mereka dalam berbagai permasalahan yang mereka alami.
Dengan demikian pemahaman guru terhadap fase-fase perkembangan kematangan psikologis anak dapat membantu guru dalam menemukan pendekatan pmbelajaran yang relevan dengan usia kematangan psikologis siswa.
c.       Rentangan perhatian (attention span)
Rentang perhatian siswa adalah  aktu normal siswa dapat berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian pembelajaran. Rentang perhatian siswa dalam belajar akan menentukan kualitas informasi yang diperoleh siswa dalam belajar.
d.      Bakat-bakat istimewa
Sebagaiaman dipahami bahwa setiap anak memiliki bakat atau potensi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Untuk itu guru perlu memahami perbedaan bakat tersebut agar dapat dikembangkan secara optimal.
e.       Hubungan dengans esama siswa
Interaksi antara guru dan siswa, ssiswa dengan siswa yang lainnya menjadi hubungan secara sepihak tetapi lebih jauh merupakan hubungan emosional dan simpatik lewat proses belajar mengajar. Siswa tidak lagi menjadi objek didik tetapi telah tereduksi dengan polarisasi pemikiran hari ini yaitu sebagai subjek didik, proses interaksi yang menyenangkan dan menggairahkan menjadikan belajar menjadi lebih efektif. Dengan demikian memahami antar hubungan guru dan siswa membantu guru dalam mengembangkan pendekatan belajar bertumpu kepada kerjasama siswa dalam belajar.
f.       Keadaan sosial ekonomi
Pemahaman guru terhadap keadaan sosial ekonomi siswa juga dapat membantu guru dalam menentukan pendekatan dan sumber belajar. Secara kasat mata, dapat diperhatikan bahwa sebagian besar siswa mengalami kendala dalam memenuhi kebutuhan sumber belajar sebagai akibat rendahnya ekonomi keluarga.berkenaan dengan itu dibutuhkan kreativitas guru dalam membuat atau menentukan sumber belajar dan media yang terjangkau dan tersedia dilingkungan belajar siswa.
Memahami berbagai macam karakteristik siswa memiliki beberapa manfaat, sebagai berikut:
a.       Memperoleh gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan awal para siswa, yang berfungsi sebagai persyaratan bagi bahan baru yang akan disampaikan
b.      Memperoleh gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang telah dimiliki siswa.
c.       Mengetahui latar belakang sosial kultural para siswa, termasuk latar belakang keluarga, seperti tingkat pendidikan orang tua, tingkat sosial ekonomi, dan dimensi kehidupan lainnya yang melatarbelakangi perkembangan sosial emosional dan mental mereka.
d.      Mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembngan siswa.
e.       Untuk menentukan kelas-kelas tingkat laku awal ada tiga jenis alat yang dapat digunakan, yaitu perangkat belajar (learning set) kemampuan belajar (learning abilities), dan gaya belajar (learning style) antara yang satu dnegan yang lainnya berhubungan dengan konsep tingkah laku awal.
f.       Mengetahui aspirasi dan kebutuhan para siswa, dengan car itu guru dapat merangsang strategi yang lebih tepat untuk emmenuhi kebutuhan san aspirasi itu, baik secara individual maupun secara kelompok.
g.      Mengetahu tingkat penguasaan bahasa siswa, baik lisan maupun tertulis.
h.      Mengetahu sikap dan nilai yang menjiwai pribadi pada siswa.
Dalam menganilisi kemampuan siswa, menurut Anwar dan Harmi (2011) ada tiga langkah yang perlu dilakukan, yaitu:
1.      Melakukan pengamatan (observasi) kepada siswa seccra perorangan. Pengamatan ini bisa dilakukan dnegan menggunakan tes kemampuan awal, atau angket wawancara.tes digunakan untuk mengetahui konse, prosedure, atau prinsip-prinsip yang telah dikausai oleh pembelajaran yang terkait dengan konsep, prosedur dan prinsip yang akan digunakan.
2.      Tabulasi karakteristik perseorangan siswa. Hasil pengamatan yang dilakukan pada langkah pertama ditabulasi untuk mendapatkan klarifikasi dan rinciannya. Hasil tabulasi akan digunakan untuk daftar klasifikasi karakteristik menonjol yang perlu diperhatikan dalam penetapan strategi pengelolaan.
3.      Pembuatan daftar strategi karakteristik siswa. Daftar ini perlu dibuat sebagai dasar menentukan strategi pengelolaan pembelajaran. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan daftar ini adalah daftar harus selalu disesuaikan dengan kemajuan-kemajuan belajar yang dicapai pembelajar secara perorangan.
Ada berbagai macam instrumen yang bisa digunakan untuk memperoleh data tentang karakteristik pembelajar, meliputi: observasi, interviu, kuisioner, inventori, dan tes.