PEMBELAJARAN
A.
Hakikat
Pembelajaran
Seseorang dikatakan belajar apabila ia dapat
melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukan sebelum ia belajar, atau bila
kelakuannya berubah, sehingga lain
caranya menghadapi suatu situasi
dari pada sebelum itu. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 20 dinyatakan bahwa Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan
pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Sejalan
Undang-undang tersebut, menurut Dimyati dan Mudjiono (Ahmar 2012) pembelajaran
adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk
membuat belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Disisi
lain menurut Hamalik (1994) pembelajaran adalah susatu kombinasi yang tersusun
meliputi unsur-unsur manusiawi material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur,
yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dari pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan
bahwa pembelajaran adalah suatu proses interaksi antara guru dan siswa dalam
suatu proses pembelajaran yang terprogram dan didesain dalam suatu lingkungan
belajar.
Pengelompokan komponen pembelajaran terdiri dari tiga kategori utama, yaitu: guru, isi atau materi
pembelajaran, dan siswa (Sumiati dan Asra dalam Ahmad 2012).
Interaksi antara tiga
komponen utama ini dapat melibatkan metode, media, dan penataan lingkungan
tempat belajar, sehingga terciptanya situasi pembelajaran yang memungkinkan terciptanya
tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
a.
Tujuan
Pembelajaran
Tujuan
pembelajaran adalah tujuan
yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus
dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang dinyatakan dalam
bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur (H. Daryanto dalam Ahmad 2012).
b.
Materi
Pembelajaran
Materi pembelajaran adalah substansi yang akan
disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa materi pembelajaran proses
belajar mengajar tidak akan berjalan (Syaiful Bahri Djamarah, dkk,
dalam Ahmad 2012).
c.
Metode
Pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau
menyajikan, menguraikan, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk
mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang ditetapkan guru memungkinkan
siswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar produk. Penggunaan metode
pembelajaran oleh guru memunkinkan siswa untuk mencapai tujuan belajar baik
dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Agar metode pembelajaran yang
digunakan oleh guru cepat, guru harus memperhatikan beberapa faktor, yaitu
tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber
dan fasilitas, situasi kondisi dan waktu.
d.
Media
Pembelajaran
Menurut Rudi Susilana dan Cepi Riyana (2009)
mengklasifikasikan penggunaan media berdasarkan tempat penggunaannya, yaitu:
-
Penggunaan
media kelas
-
Penggunaan
media diluar kelas
e.
Evaluasi
Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran
merupakan penilaian terhadap kemajuan siswa dalam melaksanakan proses
pembelajaran. Dengan adanya evaluasi pembelajaran keberhasilan pembelajaran
diketahui hasilnya. Evaluasi pembelajaran harus disusun dengan tepat.
f.
Peserta
didik/ Siswa
Siswa merupakan komponen inti
dari pembelajaran, maka dari itu siswa harus disiplin belajar yang tinggi.
g.
Pendidik/Guru
Guru merupakan komponen utama
yang sangat penting dalam proses pembelajaran karena tugas guru bukan hanya
sebagai fasilitator namun ada dua tugas. Kedua tugas itu adalah sebagai
pengelola pembelajaran dan sebagai pengelola kelas.
h.
Lingkungan
tempat belajar
Lingkungan yang
ditata dengan baik akan menciptakan kesan positif dalam diri siswa, sehingga
siswa menjadi lebih senang untuk belajar dan lebih nyaman dalam belajar.
B.
Model
Desain Pembelajaran
Gagne (1992) menjelaskan bahwa desain pembelajaran
untuk membantu proses belajara siswa, dimana proses belajara itu memiliki
tahapan jangka panjang. Menurut gagne belajar seseorang dpat dipengaruhi oleh
dua faktor yakni faktor internal dan faktor eksternal.
1. Faktor
internal adalah faktor yg berkaitan dengan kondisi yang dibawa atau datang dari
dalam individu siswa, seperti kemampuan dasar, gaya belajar seseorang, minat
dan bakat serta kesiapan setiap individu yang belajar.
2. Faktor
eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yakni berkaitan dengan
penyediaan kondisi atau lingkungan yang didesain agar siswa belajar. Desain
pembelajaran berkaitan dengan faktor eksternal ini, yakni pengaturan lingkungan
dan kondisi yg memungkinkan siswa dapat belajar.
Dalam desain pembelajaran dikenal beberapa model
yang dikemukakan oleh para ahli. Secara umum, model desain pembelajaran dapat
diklasifikasikan ke dalam model berorientasi kelas, model berorientasi sistem,
model berorientasi produk, model prosedural dan model melingkar. Desain
pembelajaran sebagai proses rangkaian kegiatan yang bersifat linear tersebut
digambarkan oleh Sambaugh (2006).
1. Menentukan kebutuhan2. Pengembangan desain untuk menjawab kebutuhan3. Uji coba4. Evaluasi hasil (kembali lagi menentukan kebutuhan)
Desain instruksional yg baik harus
memiliki beberapa kriteria diantaranya:
a.
Berorientasi
pada siswa
Ketika kita mendesain
pembelajaran, maka pertanyaan pertama yg harus kita ajukan adalah bagaimana
desain yg kita kembangkan itu mampu membantu siswa dalam mempelajari bahan
pembelajara dan memudahkan siswa belajar. Beberapa hal yg perlu dipahami
tentang siswa diantaranya:
1)
Kemampuan dasar
Pemahaman kemampuan
dasar yg dimiliki siswa perlu dipahami untuk menentukan dari mana sebaiknya
kita mulai mendesain pembelajaran. Dalam menentukan tujuan pembelajaran yg
harus dicapai selamanya disesuaikan dengan kemampuan yg telah atau harus
dimiliki terlebih dahulu oleh setiap siswa. Sehingga desain pembelajaran
dirancang sesuai dengan potensi dan kompetensi yang telah dimiliki oleh siswa.
Dengan kata lain desain tidak dirancang semata-mata oleh kemauan guru saja.
2)
Gaya belajar
Gaya belajar ada
3 tipe, yakni tipe auditif, tipe visual, dan tipe kinestetis. Siswa yg bertipe
auditif akan dapat menangkap informasi lebih banyak melalui pendengaran. Dengan
demikian maka desain pembelajaran dirancang agar siswa banyak mendengar melalui
berbagai media yang dapat di dengar seperti radio, recorder, video dll.
b.
Berpijak pada
pendekatan sistem
Melalui
pendekatan sistem bukan saja dapat diprediksi keberhasilannya, akan tetapi juga
akan terhindar dari ketidakpastian. Hal ini disebabkan karena melalui
pendekatan sistem dari awal sudah diantisipasi berbagai kendala yg mungkin
dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan. Atas dasar itulah maka pendekatan
sistem dalam desain instruksional merupakan pendekatan ideal yg dapat dilakukan
oleh para desainer pembelajaran.
c.
Teruji secara
empiris
Sebelum
digunakan, sebuah desain instruksional harus teruji dahulu efektivitas dan
efisiensinya secara empiris. Melalui pengujian secara empiris dapat dilihat
berbagai kelemahan dan berbagai kendala yg mungkin muncul sehingga jauh
sebelumnya dapat diantisipasi. Selain itu melalui pengkajian secara ilmiah
dapat meyakinkan para pengembang pembelajaran untuk menggunakannya.
Berikut
ini beberapa model-model desain pembelajaran:
Salah
satu model desain pembelajaran adalah model Dick and Carey (1985). Model ini
termasuk ke dalam model prosedural. Langkah–langkah Desain Pembelajaran menurut
Dick and Carey:
a. Mengidentifikasikan
tujuan umum pembelajaran.
b. Melaksanakan
analisis pembelajaran
c. Mengidentifikasi
tingkah laku masukan dan karakteristik siswa
d. Merumuskan
tujuan performansi
e. Mengembangkan
butir–butir tes acuan patokan
f. Mengembangkan
strategi pembelajaran
g. Mengembangkan
dan memilih materi pembelajaran
h. Mendesain
dan melaksanakan evaluasi formatif
i.
Merevisi bahan pembelajaran
j.
Mendesain dan melaksanakan evaluasi
sumatif.
2. Model
Kemp
Secara
singkat, langkah-langkah dalam penyusunan sebuah bahan ajar, yaitu:
a. Menentukan
tujuan dan daftar topik,menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap
topiknya.
b. Menganalisis
karakteristik pelajar, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;
c. Menetapkan
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan
tolak ukur perilaku pelajar
d. Menentukan
isi materi pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan
e. Pengembangan
prapenilaian/ penilaian awal untuk menentukan latar belakang pelajar dan
pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik
f. Memilih
aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang menyenangkan atau menentukan
strategi belajar-mengajar, jadi siswa siswa akan mudah menyelesaikan tujuan
yang diharapkan;
g. Mengkoordinasi
dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia,
fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana
pembelajaran
h. Mengevaluasi
pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta
melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari
perencanaan yang membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi yang
dilakukan berupa evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
3. Model
ASSURE
Model
ASSURE merupakan suatu model yang merupakan sebuah formulasi untuk kegiatan
Belajar Mengajar (KBM) atau disebut juga model berorientasi kelas. Menurut Heinich
(Supriatna dan Mulyadi, 2009) model ini terdiri atas enam langkah kegiatan
yaitu
a) Analyze Learners
Menurut
Heinich (Supriatna dan Mulyadi, 2009) jika sebuah media pembelajaran akan
digunakan secara baik dan disesuaikan dengan cirri-ciri belajar, isi dari
pelajaran yang akan dibuatkan medianya, media dan bahan pelajaran itu sendiri.
Lebih lanjut Heinich menyatakan sukar untuk menganalisis semua cirri pelajar yang
ada, namun ada tiga hal penting dapat dilakuan untuk mengenal pelajar sesuai
.berdasarkan cirri-ciri umum, keterampilan awal khusus dan gaya belajar
b) States Objectives
Menyatakan
tujuan adalah tahapan ketika menentukan tujuan pembeljaran baik berdasarkan
buku atau kurikulum. Tujuan pembelajaran akan menginformasikan apakah yang
sudah dipelajari anak dari pengajaran yang dijalankan. Menyatakan tujuan harus
difokuskan kepada pengetahuan, kemahiran, dan sikap yang baru untuk dipelajari.
c) Select Methods,
Media, and Material
Heinich
(Supriatna dan Mulyadi: 2009) menyatakan ada tiga hal penting dalam pemilihan
metode, bahan dan media yaitu menentukan metode yang sesuai dengan tugas
pembelajaran, dilanjutkan dengan memilih media yang sesuai untuk melaksanakan
media yang dipilih, dan langkah terakhir adalah memilih dan atau mendesain
media yang telah ditentukan.
d) Utilize Media and
materials
Menurut
Heinich (Supriatna dan Mulyadi: 2009) terdapat lima langkah bagi penggunaan
media yang baik yaitu, preview bahan, sediakan bahan, sedikat persekitaran,
pelajar dan pengalaman pembelajaran.
e) Require Learner Participation
Sebelum
pelajar dinilai secara formal, pelajar perlu dilibatkan dalam aktivitas pembelajaran
seperti memecahkan masalah, simulasi, kuis atau presentasi.
f) Evaluate and
Revisi
Sebuah
media pembelajaran yang telah siap perlu dinilai untuk menguji keberkesanan dan impak
pembelajaran. Penilaian yang dimaksud melibatkan beberaoa aspek diantaranya
menilai pencapaian pelajar, pembelajaran yang dihasilkan, memilih metode dan
media, kualitas media, penggunaan guru dan penggunaan pelajar.
4. Model
Addie
Ada
satu model desain pembelajaran yang lebih sifatnya lebih generik yaitu model
ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada tahun 1990-an
yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.Salah satu fungsinya ADIDE yaitu
menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan
yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri. Model ini menggunakan 5 tahap pengembangan
yakni :
a. Analysis
(analisa)
Tahap
analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari oleh
peserta belajar, yaitu melakukan needs assessment (analisis kebutuhan),
mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task
analysis). Oleh karena itu, output yang akan kita hasilkan adalah berupa karakteristik
atau profile calon peserta belajar, identifikasi kesenjangan, identifikasi
kebutuhan dan analisis tugas yang rinci didasarkan atas kebutuhan.
b. Design (disain / perancangan)
Tahap
ini dikenal juga dengan istilah membuat rancangan (blue-print). Ibarat
bangunan, maka sebelum dibangun gambar rancang bangun (blue-print) diatas
kertas harus ada terlebih dahulu. Apa yang kita lakukan dalam tahap desain ini?
Pertama merumuskan tujuan pembelajaran yang SMAR (spesifik, measurable,
applicable, dan realistic). Selanjutnya menyusun tes, dimana tes tersebut harus
didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan tadi. Kemudian
tentukanlah strategi pembelajaran yang tepat harusnya seperti apa untuk
mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini ada banyak pilihan kombinasi metode dan
media yang dapat kita pilih dan tentukan yang paling relevan. Disamping itu,
pertimbangkan pula sumber-sumber pendukung lain, semisal sumber belajar yang
relevan, lingkungan belajar yang seperti apa seharusnya, dan lain-lain. Semua itu
tertuang dalam sautu dokumen bernama blue-print yang jelas dan rinci.
c. Development
(pengembangan)
Pengembangan
adalah proses mewujudkan blue-print alias desain tadi menjadi kenyataan.
Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa multimedia pembelajaran,
maka multimedia tersebut harus dikembangkan. Atau diperlukan modul cetak, maka
modul tersebut perlu dikembangkan. Begitu pula halnya dengan lingkungan belajar
lain yang akan mendukung proses pembelajaran semuanya
d. Implementation
(implementasi/eksekusi)
Implementasi
adalah langkah nyata untuk menerapkan sistem pembelajaran yang sedang kita
buat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah dikembangkan diinstal atau diset
sedemikian rupa sesuai dengan peran atau fungsinya agar bisa diimplementasikan.
Misal, jika memerlukan software tertentu maka software tersebut harus sudah
diinstal. Jika penataan lingkungan harus tertentu, maka lingkungan atau seting
tertentu tersebut juga harus ditata. Barulah diimplementasikan sesuai skenario
atau desain awal.
e. Evaluation
(evaluasi/ umpan balik)
Evaluasi
adalah proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang sedang dibangun
berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak. Sebenarnya tahap evaluasi bisa
terjadi pada setiap empat tahap di atas. Evaluasi yang terjadi pada setiap
empat tahap diatas itu dinamakan evaluasi formatif, karena tujuannya untuk
kebutuhan revisi. Misal, pada tahap rancangan, mungkin kita memerlukan salah
satu bentuk evaluasi formatif misalnya review ahli untuk memberikan input
terhadap rancangan yang sedang kita buat. Pada tahap pengembangan, mungkin
perlu uji coba dari produk yang kita kembangkan atau mungkin perlu evaluasi
kelompok kecil dan lain-lain.
5. Model
Hanafin and Peck
Model Hannafin dan Peck ialah model desain
pengajaran yang terdiri daripada tiga fase yaitu fase Analisis keperluan, fase
desain, dan fase pengembangan dan implementasi. Dalam model ini, penilaian dan
pengulangan perlu dijalankan dalam setiap fase. Model ini adalah model desain
pembelajaran berorientasi produk. Gambar di bawah ini menunjukkan tiga fase
utama dalam model Hannafin dan Peck.
Fase pertama dari model Hannafin dan Peck adalah
analisis kebutuhan. Fase ini diperlukan untuk mengidentifikasi
kebutuhan-kebutuhan dalam mengembangkan suatu media pembelajaran termasuklah di
dalamnya tujuan dan objektif media pembelajaran yang dibuat, pengetahuan dan
kemahiran yang diperlukan oleh kelompok sasaran, peralatan dan keperluan media
pembelajaran. Setelah semua keperluan diidentifikasi Hannafin dan Peck
menekankan untuk menjalankan penilaian terhadap hasil itu sebelum meneruskan
pembangunan ke fase desain.
Fasa yang kedua dari model Hannafin dan Peck adalah
fase desain. Di dalam fase ini informasi dari fase analisis dipindahkan ke
dalam bentuk dokumen yang akan menjadi tujuan pembuatan media pembelajaran.
Hannafin dan Peck menyatakan fase desain bertujuan untuk mengidentifikasikan
dan mendokumenkan kaedah yang paling baik untuk mencapai tujuan pembuatan media
tersebut. Salah satu dokumen yang dihasilkandalam fase ini ialah dokumen story
board yang mengikut urutan aktivitas pengajaran berdasarkan keperluan pelajaran
dan objektif media pembelajaran seperti yang diperoleh dalam fase analisis
keperluan. Seperti halnya pada fase pertama, penilaian perlu dijalankan dalam
fase ini sebelum dilanjutkan ke fase pengembangan dan implementasi.
Fase ketiga dari model Hannafin dan Peck adalah fase
pengembangan dan implementasi. Hannafin dan Peck mengatakan aktivitas yang
dilakukan pada fase ini ialah penghasilan diagram alur, pengujian, serta
penilaian formatif dan penilaian sumatif.
Dokumen story board akan dijadikan landasan bagi pembuatan diagram alir
yang dapat membantu proses pembuatan media pembelajaran. Untuk menilai
kelancaran media yang dihasilkan seperti kesinambungan link, penilaian dan
pengujian dilaksanakan pada fase ini. Hasil dari proses penilaian dan pengujian
ini akan digunakan dalam proses pengubahsuaian untuk mencapai kualitas media
yang dikehendaki. Model Hannafin dan Peck menekankan proses penilaian dan
pengulangan harus mengikutsertakan proses-proses pengujian dan penilaian media
pembelajaran yang melibatkan ketiga fase secara berkesinambungan. Lebih lanjut
Hannafin dan Peck menyebutkan dua jenis penilaian yaitu penilaian formatif dan
penilaian sumatif. Penilaian formatif ialah penilaian yang dilakukan sepanjang
proses pengembangan media sedangkan penilaian sumatif dilakukan setelah media
telah selesai dikembangkan.
6.
Model Banathy
Model ini
memandang bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan melalui
tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahapan dalam mendesain suatu program
pembelajaran yakni:
a.
Menganalisis dan
merumuskan tujuan, baik tujuan pengembangan sistem maupun pengembangan
spesifik. Tujuan merupakan sasaran dan arah yang harus dicapai oleh siswa atau
peserta didik.
b.
Merumuskan
kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Item tes dalam
tahap ini dirumuskan untuk menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan tes dapat
menyakinkan kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilannya.
c.
Menganalisis dan
merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan menginventarisasi seluruh kegiatan
belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai dengan kondisi yang ada
serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan.
d.
Merancang
sistem, yaitu kegiatan menganalisis sistem menganalisis setiap komponen sistem,
mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.
e.
Mengimplementasikan
dan melakukan kontrol kualitas sistem, yakni melatih sekaligus menilai
efektivitas sistem, melakukan penempatan dan melaksanakan evaluasi
f.
Mengadakan
perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.
C.
Analisis
kebutuhan
Analisis kebutuhan
merupakan aktivitas ilmiah untuk mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan
penghambat proses pembelajaran guna memilih dan menentukan media yang tepat dan
relevan untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mengarah pada peningkatan mutu
pendidikan. Menurut Aderson analisis kebutuhan diartikan sebagai suatu proses
kebutuhan sekaligus menentukan prioritas. Ada dua jenis
penelitian yaitu: (1) Kebutuhan Fungsional merupakan pendefinisian layanan yang
harus disediakan, bagaimana reaksi sistem terhadap input dan apa yang harus
dilakukan sistem pada situasi khusus (Kebutuhan sistem dilihat dari kacamata
pengguna), (2) kebutuhan Non-Fungsional yaitu kendala pada pelayanan atau fungsi
sistem seperti kendala waktu, kendala proses pengembangan, standard, dll.
Contoh: kehandalan, waktu respon dan kebutuhan storage. Contoh kendala seperti:
Keterbatasan kemampuan peralatan I/O, representasi sistem dan lain-lain.
1. Fungsi
analaisis kebutuhan
Marrison menejelaskan beberapa analisis kebutuhan
a. Mengidentifikasi
kebutuhanyang relevan dengan pekrjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa
yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
b. Mengidentifikasi
kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain
yang mengganggu pekerjaan atau lingkungan pendidikan.
c. Menyajikan
prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.
d. Memberikan
data basis untuk menganalisa efektivitas pembelajaran.
Ada enam macam kebutuhan yang digunakan untuk
merencanakan dan mengadakan analisa kebutuhan:
a. Kebutuhan
normatif membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misal EBTANAS
dll.
b. Kebutuhan
komperatif, membandingkan peserta didik dengan satu kelompok dengan kelompok
yang lainyang selevel. Misalkan SLTP A dan SLTP B.
c. Kebutuhan
yang dirasakan yaitu hasrat atau keinginan untuk dimiliki msing-masing peserta
didik yang perlu ditingkatkan . hal ini menunjuk pada kesenjangan antara
keterampilan kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan.
d. Kebutuhan
yang diekspresikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang yang diekspresikan
dalam tindakan, misalkan siswa yang mendaftar sebuah kursus.
e. Kebutuhan
masa depan, yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi dimasa
yang akan datang. Misalkan penerapan teknik pembelajaran yang barudan
sebagainya.
f. Kebutuhan
insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul diluar dugaan yang
sangat berpengaruh. Mialkan bencana nuklir dan sebagainya.
2. Langkah-langkah
Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan terdiri atas rangkaian kegiatan
yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan berakhir pada perumusan
masalah. Adapun tahapan dalam langkah-langkah analisis kebutuhan meliputi:
a. Pengumpulan
informasi
Dalam merancang pembelajaran
pertama kali seorang desainer perlu memahami terlebih dahulu informasi tentang
siswa dapat mengerjakan apa, siapa memahami apa, siapa yang akan belajar,
kendala-kendala apa yang akan dihadapi, dan bagaimana pengaruh keadaan tertentu
terhadap karakteristik siswa. Berbagai informasi yang dikumpulkan akan
bermanfaat dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai beserta skala prioritas
dalam pemecahan suatu masalah.
b. Identifikasi
kesenjangan
Dalam identifikasi kesenjangan
Kaufman dan English (1979), menjelaskan identifikasi kesenjangan melalui Organizational
Elements Model (OEM). Dalam model OEM, Kaufman menjelaskan adanya lima elemen
yang saling berkaitan. Duaa elemen pertama, yaituj input dan proses adalah
bagaimana menggunakan setiap potensi dan sumber yang ada; sedangkan elemen
terakhir meliputi produk, output dan outcome merupakan hasil akhir dari suatu
proses. Kategori kebutuhan seperti yang dikemukakan dalam OEM digambarkan oleh
Kaufman seperti gambar di bawah ini:
1) Input
2) Proses
3) Produk
4) Output
5) Outcome
Komponen
input, meliputi kondisi yang tersedia pada saat ini misalnya tentang keuangan, waktu, bangunan, guru, pelajar,
kebutuhan, problem, tujuan, materi kurikulum yang ada. Komponen proses,
meliputi pelaksanaan pendidikan yang berjalan yang terdiri atas pola
pembentukan staf, pendidikan yang berlangsung sesuai dengan kompetensi,
perencanaan, metode, pembelajaran individu, dan kurikulum yang berlaku.
Komponen produk, meliputi penyelesaian pendidikan, keterampilan, pengetahuan
dan sikap yang dimiliki, serta kelulusan tes kompetensi. Komponen Output,
meliputi ijazah kelulusan, keterampilan prasyarat, lisensi. Komponen Outcome
meliputi kecukupan dan kontribusi individu atau kelompok saat ini dan masa
depan. Outcome merupakan hasil akhir yang diperoleh. Melalui analisis hasil,
desainer dapat menentukan sejauh mana hasil yang diperoleh dapat berkontribusi
pada pencapaian tujuan. Inilah proses yang pada hakikatnya menentukan
kesenjangan antara harapan dan apa yang terjadi. Berdasarkan analisis itulah,
desainer dapat mendeskripsikan masalah dan kebutuhan pada setiap komponen yakni
input, proses, produk, dan output.
c. Analisis
performance
Tahap ketiga dalam proses need
assessment, adalah tahap menganalisis performance. Menganalisis
performance dilakukan setelah desainer
memahami berbagai informasidan mengidentifikasi
kesenjangan yang ada. Ketika kita menemukan adanya kesenjangan,
selanjutnya kita identifikasi kesenjangan mana yang dapat dipecahkanmelalui
perencanaan pembelajaran dan mana yang memerlukan pemecahan dengan cara lain,
seperti melalui kebijakan pengelolaan baru, penentuan struktur organisasi yang
lebih baik, atau mungkin melalui pengembangan bahan dan alat-alat. Untuk
mennetukan semua itu kita perlu memahami faktor-faktor penyebab terjadinya
kesenjangan dan pemahaman tersebut dapat dilakukan pada saat need assessment
berlangsung. Analisis performance meliputi:
1) Mengidentifikasi
guru
2) Mengidentifikasi
saran dan kelengkapan penunjang
3) Mengidentifikasi
berbagai kebijakan sekolah
4) Mengidentifikasi
iklim sosial dan iklim sosiologi
Disamping semua
unsur tersebut, masih ada unsur lainnya yang perlu dianalisis, misalnya
penerapan hukuman dan ganjaran, sistem intensif yang diberikan baik pada guru
maupun siswa.
d. Identifikasi
hambatan
Tahap keempat dalam need assessment
adalah mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul beserta sumber-sumbernya.
Dalam pelaksanaan suatu program berbagai kendala bias muncul sehingga dapat berpengaruh
terhadap kelancaran suatu program. Berbagai kendala dapat meliputi, waktu
fasilitas, bahan, pengelompokan dan komposisinya, pilosofi, personal, dan
organisasi. Sumber-sumber kendala bisa berasal dari pertama, orang yang
terlibat dalam suatu program pembelajaran, misalnya guru-kepala sekolah, dan
siswa itu sendiri. Termasuk juga dalam unsure orang ini adalah unsure filsafat
atau pandangan yang terhadap pekerjaannya, motivasi kerja, dan kemampuan yang
dimilikinya. Kedua, fasilitas yang ada, di dalamnya meliputi ketersediaan dan kelengkapan
fasilitas serta kondisi fasilitas. Ketiga, berkaitan dengan jumlah pendanaan
beserta pengaturannya
e. Identifikasi
karakteristik siswa
Tahap kelima dalam need assessment
adalah mengidentifikasi siswa. Tujuan utama dalam desain pembelajaran adalah
memecahkan berbagai problema yang dihadapi siswa, oleh karena itu hal-hal yang
berkaitan dengan siswa adalah bagian dari need assessment. Identifikasi yang
berkaitan dengan siswa di antaranya
adalah tentang usia, jenis kelamin, level pendidikan, tingkat social
ekonomi, latar belakang, gaya belajar, pengalaman dan sikap. Karakteristik siswa
seperti di atas, akan bermanfaat ketika kita menentukan tujuan yang harus
dicapai, pemilihan dan penggunaan strategi pembelajaran yang di anggap cocok,
serta untuk menentukan teknik evaluasi yang relevan.
f. Identifikasi
prioritas
Definisi need assessment sebagai
suatu proses mengidentifikasi, mendokumentasi dan menjustifikasi kesenjangan
antara apa yang terjadi dan apa yang akan dihasilkan melalui penentuan skala
prioritas dari setiap kebutuhan Kaufman (1983). Definisi yang dikemukakan oleh
Kaufman berhubungan erat dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh sebab itu,
mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai merupakan salah satu kegiatan yang
harus dilaksanakan dalam proses need assessment. Tidak semua kebutuhan menjadi
tujuan dalam desain intruksional. Seorang desainer perlu menetapkan
kebutuhan-kebutuhan apa yang dianggap mendesak untuk dipecahkan sesuai dengan
kondisi. Ini hakikatnya menentukan skala prioritas dalam need assessment. Terdapat beberapa teknik dalam menentukan skala
prioritas dari data yang telah terkumpul. Misalnya teknik perangkingan meliputi
Teknik Delphi, Fokus Group Discussion, Q-Sort, dan Storyboarding. Teknik-teknik
ini digunakan untuk menjaring berbagai tujuan yang dianggap perlu melalui
penilaian para ahli yang terlibat pada diskusi. Dengan demikian, rumusan tujuan
benar-benar hasil suatu studi yang dibutuhkan dan diperlukan untuk dipecahkan
g. Merumuskan
masalah
Tahap akhir dalam proses analisis
masalah adalah menuliskan pernyataan masalah sebagai pedoman dalam penyusunan
proses desain intruksional. Penulisan masalah pada dasarnya merupakan rangkuman
atau sari pati dari permasalahan yang ditentukan. Pernyataan masalah harus
ditulis secara singkat dan padat yang biasanya tidak lebih dari satu-dua
paragraf. Salah satu format yang sederhana dikembangkan oleh Jung, Pino dan
Emory (1979), yang dinamakan dengan RUPS (Research Utilizing Problem Solving).
Tujuan RUP adalah merumuskan latar belakang dan konteks permasalahan, bagaimana
tipe permasalahan dan memberikan tujuan berdasarkan permasalahan untuk
dikembangkan. Teknik RUPS merupakan teknik yang dianggap paling baik ketika
kita ingin menjawab permasalahan yang harus dipecahkan.
D.
Analisis
karakteristik siswa
Sebelum menyusun dan mengembangkan RPP, sebaiknya
seorang guru yelah memahami subjek atau peserta didiknya. Karena siswa memiliki
beragam tingkat pengetahuan. Menurut Syaiful segala interaksi antara peserta
didik dan pendidikan akan ,menghasilkan kematangan yang tampak dari peruahan
tingkah laku yang dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari
proses belajar. Sementara itu syamsudin Makmun menjelaskan secara rinci tentang
perubahan dalam konteks belajar yang dilakukan siswa dapat bersifat fungsional
atau struktural, material, behavioral serta keseluruhan pribadi..
Karakteristik siswa didefinisikan sebagai ciri
kualitas perorangan siswa yang pada umumnya meliputi antara lain kemampuan
akademik, usia dan tingkat kedewasaan, motivasi terhadap mata pelajaran,
pengalaman, keterampilan, psikomotorik, kemampuan bekerja sama, dan keterampilan
sosial. Disamping karakteristik tersebut, terdapat karakteristik yang disebut
dengan non-konvensional yang meliputi kelompok minoritas (suku), cacat dan
tingkat kedewasaan. Hal ini berpengaruh terhadap penggunaan bahas, penghargaan,
perlakuan khusu, dan metode/strategi dalam proses pembelajaran.
Didalam menganalisis karakter siswa, ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan. Menurut Anwar dan Harmi (2011) dua karakteristik
siswa yang perlu dipahami oleh seorang guru, yaitu:
1. Latar
belakang akademik mencakup
a. Jumlah
siswa
Guru
perlu mengetahui jumlah ssiswa yang akan diajarkan untuk mengetahui apakah
mengajar pada kelas kecil atau kelas besar. Pemahaman guru terhadap jumlah
siswa akan mempengaruhi persiapan, guru dalam menemukan materi, metode, media,
waktu yang dibutuhkan dalam evaluasi pembelajaran yang akan dilakukan. Untuk
mengetahui jumlah siswa maka guru perlu berkoordinasi dengan bagian akademik.
b. Latar
belakang siswa
Pemahaman
guru terhadap latar belakang siswa seperti latar belakang ekonomi, hobi dan
lain sebagainya, juga berpengaruh terhadap proses perumusan perencanaan sistem
pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang latar belakang zizwa dapat
diperoleh melalui pengisian biodata oleh siswa.
c. Indeks
prestasi
Indeks
prestasi juga penting untuk diketahui oleh seorang guru, agar materi yang akan
disajikan:
1) Dapat
disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki
2) Bahkan
siswa yang memiliki tingkat prestasi yang homogen dapat ditempatkan pada kelas yang sama
3) Guru
yang dapat mempertimbangkan tingkat keluasan dan kedalaman materi yang
disampaikan dengan prestasi yang dimiliki oleh siswa
Untuk
mengetahui indeks prestasi siswa dapat diperoleh melalui nilai rapor sebelumnya
atau seleksi kemampuan awal siswa yang diselenggarakan lembaga.
d. Tingkat
intelegensi
Memahami tingkat
intelegensi siswa juga dapat mengukur dan memprediksi:
1) Tingkat
kemampuan mereka dalam menerima materi pembelajaran
2) Mengukur
tingkat kedalaman
3) Bahkan
dengan memahami tingkat intelegensi siswa perlu dapat menyusun materi, metode,
media, serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap siswa.
Tingkat intelegensi
siswa dapat diperoleh melalui tes intelegensi atau tes potensi akademik (TPA).
e. Keterampilan
membaca
Salah
satu kecakapan yang harus dimiliki siswa dalam belajar adalah keterampilan
membaca, keterampilan membaca adalah yang menyangkut tentang kemampuan siswa
dalam menyimpulkan secara cepat dan akurat tentang bahan bacaan yang mereka
baca. Untuk mengetahui tingkat keterampilan membaca siswa dapat dilakukan
melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam rentang waktu yang
telah ditentukan.
f. Nilai
ujian
Nilai
ujian juga dapat diajdikan sebagai pedoman untuk memhami karakteristik awal
siswa. Untuk memperoleh nilai ujian siswa perlu dilakukan tes kemampuan awal
siswa terhadapa mata pelajaran yang diampu oleh guru yang bersangkutan.
g. Kebiasaan
hasil belajar gaya belajar
Aspek
lain yang perlu diperhatikan dalam mengajar adalah memahami gaya belajar siswa
atau yang disebut dengan learning style.
Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai siswa. Dalam proses
pembelajaran, banyak siswa yang mengikuti belajar pada masa pelajaran
terstentu, diajar dengan menggunakan strategi yang sama, akan tetapi mempunya
tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh
tingkat kecerdasan siswa yang berbeda-beda.
h. Minat
belajar
Minat
belajar juga dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam emmahami karakteristik
siswa. Hal ini dilakukan agar guru dapat memprediksi melihat antusias terhadap
pembelajaran yang disampaikan. Oleh sebab itu, guru perlu melakukan wawancara
atau pengisian angket, agar dapat merangkum seluruh penilaian yang mencerminkan
tentang minat siswa terhadap mata pelajaran yang akan disampaikan.
i.
Harapan/keinginan siswa
Harapan
dan keinginan siswa terhadap mata
pelajaran yang akan diberikan juga bisa dijadikan sebagai patokan guru dalam
memahami karakteristik siswa. Hal ini dpaat dilakukan dengan meminta siswa untuk mengemukakan
pendepatnya tentang harapan mereka terhadap mata pelajaran yang akan diberikan,
suasana yang inginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata pelajaran
yang disajikan.
j.
Lapangan kerja/ cita-cita
Hal
ini dapat dilakukan dnegan pengisisan angket. Sehingga berdasarkan informasi
ini guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi terhadap siswa dalam upaya
pencapaian cita-cita mereka inginkan.
2. Faktor
sosial yang meliputi antara lain:
a. Usia
Faktor
usia dapat dijadikan patokan dalam memahami karakteristik siswa. Memahami usia
siswa akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran yang akan
dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap usia anak-anak tentu saja
berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakan terhadap anak remaja atau dewasa.
Dalam
praktik pendidikan dikenal istilah pedagogi dan andragogi. Pedagogi berasal
dari bahasa Yunani paid artinya anak dan agogos artinya membimbing.
Itulah sebabnya pedagogi diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar anak.
Sedangkan andragogi berasal dari kata Yunani yakni andra berarti orang dewasa
dan agogos berarti memimpin. Definisi andragogi kemudian
dirumuskan sebagai suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar.
b. Kematangan
Kematangan
juga dapat dijadikan sebagai patokan dalam memahami karakteristik siswa, dimana
kematangan secara psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam mennentukan
berbagai macam pendekatan belajara yang sesuai dengan tingakt usia/kesiapan
siswa. Didalam Ilmu Psikologi Pendidikan kematanagan ini disebut juga dengan
perkembangan. Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat kualitatif
dari fungsi-fungsi tubuh manusia, baik jasmani maupun rohani. Dari perkembangan
jasmani dan rohani manusia yang terjadi pada fase kehidupan manusia, mengaruh pada
terjadinya proses kematangan. Kematangan itu mencakup:
1) Kematangan
prenatal yakni anak berusia 2,5-9 tahun akan mengalami kematangan fungsi syaraf
serta refleksi untuk menggerakkan tubuh bayi
2) Perkembangan
vital yakni lahir, menangis, dan tak berdaya, tetapi setelah mengalami fase
tersebut ketigfa aspek siatas dapat berfungsi dab=n menjadi matang.
3) Kematangan
ingatan yakni 2-3 tahun fungsi ingatan anak mulai berkembang, sehingga telah
mampu menerima kesan dan ingatan serta menuju kesempurnaan pada usia berikutnya.
4) Kematangan
imajinasi yakni pada anak usia 3-4 tahun anak sudah merasa bahwa dirinya
merupakan kepentingan dari orang lain. Bahkan dia telah mulai menyadari bahwa
ia dibatasi oleh orang lain. Pada usia berikutnya imajinasi tersebut akan
berkembang menuju kematangannya.
5) Kematangan
pengamatan yakni pada usia 4-6 tahun sudah berkembang fungsi pengamatan untuk
mengenal lingkungan sekitarnya, sehingga pada tahun berikutnya fungsi
kematangan menjadi dominan.
6) Kematangan
intelektual yakni pada anak 67 tahun anak sudah mulai berfikir secara logis
baik dan buruk. Dan pada tahun berikutnya perkembangan dan gungsi intelektual
anak akan menuju kematangannya seiring dnegan proses pembelajaran yang ia
peroleh.
7) Kematanagn
pra remaja yakni anak sudah memasuki usia pubertas yang salahsatu cirinya
adalah anak muali memperhatikan diri, emmbandingkan dengan orang lain, serta
mulai mengenal lawan jenis.
8) Kematangan
remaja yaitu anak sudah mulai merasakan kebutuhan untuk berteman, sahabat yang
dapat membantu mereka dalam berbagai permasalahan yang mereka alami.
Dengan demikian pemahaman guru terhadap
fase-fase perkembangan kematangan psikologis anak dapat membantu guru dalam
menemukan pendekatan pmbelajaran yang relevan dengan usia kematangan psikologis
siswa.
c. Rentangan
perhatian (attention span)
Rentang
perhatian siswa adalah aktu normal siswa
dapat berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian pembelajaran. Rentang perhatian
siswa dalam belajar akan menentukan kualitas informasi yang diperoleh siswa
dalam belajar.
d. Bakat-bakat
istimewa
Sebagaiaman
dipahami bahwa setiap anak memiliki bakat atau potensi yang berbeda antara satu
dengan yang lainnya. Untuk itu guru perlu memahami perbedaan bakat tersebut
agar dapat dikembangkan secara optimal.
e. Hubungan
dengans esama siswa
Interaksi
antara guru dan siswa, ssiswa dengan siswa yang lainnya menjadi hubungan secara
sepihak tetapi lebih jauh merupakan hubungan emosional dan simpatik lewat
proses belajar mengajar. Siswa tidak lagi menjadi objek didik tetapi telah
tereduksi dengan polarisasi pemikiran hari ini yaitu sebagai subjek didik,
proses interaksi yang menyenangkan dan menggairahkan menjadikan belajar menjadi
lebih efektif. Dengan demikian memahami antar hubungan guru dan siswa membantu
guru dalam mengembangkan pendekatan belajar bertumpu kepada kerjasama siswa
dalam belajar.
f. Keadaan
sosial ekonomi
Pemahaman
guru terhadap keadaan sosial ekonomi siswa juga dapat membantu guru dalam
menentukan pendekatan dan sumber belajar. Secara kasat mata, dapat diperhatikan
bahwa sebagian besar siswa mengalami kendala dalam memenuhi kebutuhan sumber
belajar sebagai akibat rendahnya ekonomi keluarga.berkenaan dengan itu
dibutuhkan kreativitas guru dalam membuat atau menentukan sumber belajar dan
media yang terjangkau dan tersedia dilingkungan belajar siswa.
Memahami
berbagai macam karakteristik siswa memiliki beberapa manfaat, sebagai berikut:
a. Memperoleh
gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan awal para siswa, yang
berfungsi sebagai persyaratan bagi bahan baru yang akan disampaikan
b. Memperoleh
gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang telah dimiliki siswa.
c. Mengetahui
latar belakang sosial kultural para siswa, termasuk latar belakang keluarga,
seperti tingkat pendidikan orang tua, tingkat sosial ekonomi, dan dimensi
kehidupan lainnya yang melatarbelakangi perkembangan sosial emosional dan
mental mereka.
d. Mengetahui
tingkat pertumbuhan dan perkembngan siswa.
e. Untuk
menentukan kelas-kelas tingkat laku awal ada tiga jenis alat yang dapat
digunakan, yaitu perangkat belajar (learning
set) kemampuan belajar (learning
abilities), dan gaya belajar (learning
style) antara yang satu dnegan yang lainnya berhubungan dengan konsep
tingkah laku awal.
f. Mengetahui
aspirasi dan kebutuhan para siswa, dengan car itu guru dapat merangsang
strategi yang lebih tepat untuk emmenuhi kebutuhan san aspirasi itu, baik
secara individual maupun secara kelompok.
g. Mengetahu
tingkat penguasaan bahasa siswa, baik lisan maupun tertulis.
h. Mengetahu
sikap dan nilai yang menjiwai pribadi pada siswa.
Dalam
menganilisi kemampuan siswa, menurut Anwar dan Harmi (2011) ada tiga langkah
yang perlu dilakukan, yaitu:
1. Melakukan
pengamatan (observasi) kepada siswa seccra perorangan. Pengamatan ini bisa
dilakukan dnegan menggunakan tes kemampuan awal, atau angket wawancara.tes
digunakan untuk mengetahui konse, prosedure, atau prinsip-prinsip yang telah
dikausai oleh pembelajaran yang terkait dengan konsep, prosedur dan prinsip
yang akan digunakan.
2. Tabulasi
karakteristik perseorangan siswa. Hasil pengamatan yang dilakukan pada langkah
pertama ditabulasi untuk mendapatkan klarifikasi dan rinciannya. Hasil tabulasi
akan digunakan untuk daftar klasifikasi karakteristik menonjol yang perlu
diperhatikan dalam penetapan strategi pengelolaan.
3. Pembuatan
daftar strategi karakteristik siswa. Daftar ini perlu dibuat sebagai dasar
menentukan strategi pengelolaan pembelajaran. Satu hal yang perlu diperhatikan
dalam pembuatan daftar ini adalah daftar harus selalu disesuaikan dengan
kemajuan-kemajuan belajar yang dicapai pembelajar secara perorangan.
Ada
berbagai macam instrumen yang bisa digunakan untuk memperoleh data tentang
karakteristik pembelajar, meliputi: observasi, interviu, kuisioner, inventori,
dan tes.